Mereka hanya Menjalankan Syariat. Apa yang Salah dengan Itu?

By | August 2, 2018
Featured Image

Yang paling menarik dari menulis adalah kita bisa menuangkan apa saja yang tengah berkeliaran di otak kita. Entah itu adalah hal baik, moderat, atau buruk. Bebas.

Tidak ada istilah salah atau benar dalam menulis. Apalagi jika bentuk tulisannya adalah sebuah opini. Mau menyalahkan cara pandang seseorang? Absurd sekali jika iya. Karena saya yakin, setiap orang pasti punya cara berpikir yang berbeda. Walau kebanyakan dari kita punya cara pikir yang kemirip-miripan. Nggak masalah juga, toh?

Sebagaimana menulis, cara berpakaian dan gaya hidup juga adlaah sebuah hak. Masing-masing dari kita punya kebebasan untuk memilih bagaimana kita menyikapi itu semua.

Gaya hidup yang sederhana, ikut arus, modern, hip, moderat, hedonistis, futuristik, vintage, apa saja. Bagaimana mungkin kita menyalahkan seseorang atas agay haidup yang ia pilih untuk dijalaninya? Bagaimana mungkin kita bisa menjustifikasi atau bahkan melarang seseorang untuk tidak menjalankan hidup sesuai dengan keinginannya sendiri? Sama sekali di luar logika. Lucu!

Kali ini saya ingin menuangkan opini tentang mereka yang memilih gaya hidup sesuai dengan ajaran agama yang mereka anut dan yakini kebenarannya.



Tunggu Apalagi? Segera buktikan sekarang juga dan jadikan penampilanmu lebih keren dan maco dengan brewok dan kumis.

Untuk kontak pemesanan dan konsultasi :
WA: http://bit.ly/foltibaffisby
IG : @foltibaffisby
LINE : http://bit.ly/2rqjOBb


Produk Kami Juga Tersedia di Market Place:


  • Shopee: http://bit.ly/folti-shopee
  • Lazada: http://bit.ly/folti-lazada
  • Tokopedia: http://bit.ly/folti-tokopedia
  • Bukalapak : http://bit.ly/folti-bukalapak


Karena konsep hijrah berlaku sepanjang zaman. Adalah konyol untuk selalu mengungkit-ungkit betapa berdosanya ia dulu.

Yang namanya memilih, selalu punya konsekuensi. Selalu punya sebab-musabab. Dan selalu punya latar cerita. Saat seseorang pada akhirnya memilih untuk nyaman dan berkontribusi optimal menjalanan perintah Tuhan, saat itu pula lingkungan sekitarnya memberikan aneka reaksi.

Akibat yang ditimbulkan atau respon dari lingkungan inilah yang lucunya lebih banyak didiskusikan daripada kontemplasi diri yang dialami oleh mereka yang memilih hidup sesuai syariat.

Apa yang ada dipikiran mereka yang berpikiran demikian? Apa yang mereka ingin dengar? Semoga tujuan mereka menggunjingkan itu semua bukan untuk menafikan ajaran-ajaran Tuhan yang agung dan luhur. Karena jika demikian, saya akan merasa kasihan sekali.

Buat apa memberi label “Jilbab Syar’i” atau “Celana Nangtung” atau “Jenggoters”?

Sudah berapa lama kebudayaan para wanita yang mengenakan kerudung masuk ke Indonesia? Puluhan tahun? Ratusan?Atau ribuan? Rasanya sudah lama sekali kita semua mengenal salah satu model pakaian yang satu ini.

Lalu beberapa waktu terakhir, perkembangan mode merambah kian luas. semakin membuat sadar kita semua akan hadirnya para wanita yang mengenakan kerudung. Yang kini bertransformasi menjadi istilah hijab.

Pernah satu kali saya mengunjungi pasar, banyak pedagang yang menjajakan dagangannya dengan menyebutnya sebagai “Jilbab Syar’i”. Pernah juga saya mengunjungi pameran buku ada salah satu pengunjung yang bergumam “Ini mah yang dateng yang jenggotan semua”.

Rasanya stratifikasi atau klasifikasi atau apalah-namanya-itu-yang-intinya-adalah-pemberian label semacam itu bukan merupakan ciri sebuah masyarakat modern. Saya kemudian malu dengan betapa sempitnya cara mereka berpikir dan membatasi diri.

Percayalah, ini bukan sekadar masalah cara berpakaian. Melainkan cara bersikap satu sama lain.

Apa rasanya mendapati diri kita ditempel satu label oleh orang lain? Apa rasanya menjadi komunitas terbatas yang selalu dianggap minoritas? saya yakin, rasanya biasa saja. Serius deh. Justru, mereka yang memberi label-label itu lah yang jengah dengan keberadaan para penganut agama yang utuh.

Mereka yang telah istiqamah menjalankan hidup sesuai syariat nyaatanya bisa menjalankan hidup dengan ringan. Tanpa embel-embel dan ketidaknyamanan. Bersikap seperti biasa. Tersenyum dan bertegur-sapa seperti halnya kita semua melakukannya sehari-hari. Makan apa yang dijual di supermarket, menonton berita yang sama, menggunakan aplikasi dan situs sosial media yang sama.

Kemudian saat berinteraksi dengan mereka yang memberi label “Anak Syar’i”, mereka juga punya sikap yang tidak beda. Sama sekali tidak ada kecanggungan. Lalu, siapa yang membuat itu semua terasa berbeda?

Content retrieved from: https://www.hipwee.com/opini/mereka-hanya-menjalankan-syariat-apa-yang-salah-dengan-itu/.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *